==> Renungan Haji <==


tribunnewsindo Sekitar tahun 700-an, ada seseorang ulama bernama Abdullah bin Mubarak yang berangkat haji.
Setelah menunaikan shalat malam, ia pun merebahkan tubuhnya di serambi Masjidil Haram. Ia pun tertidur. Tiba-tiba ia bermimpi seakan-akan ada dua malaikat turun dari langit sedang berbincang. Abdullah hanya mendengarkan pembicaraan mereka.
“Tahun ini berapakah jumlah orang yang menunaikan haji?”

“Enam ratus ribu,” jawab temannya.
“Berapa yang diterima?”
“Hanya satu”
“Apa? Hanya satu. Bagaimana dengan yang lain?”
“Semuanya ditolak. Kecuali satu orang, dan karena orang inilah akhirnya Allah menerima semua amalan orang yang berhaji tahun ini. Dia adalah lelaki tukang sol sepatu dari Damsyik bernama Muwaffaq”.
“Iya, benar.”
“Adakah seseorang yang bernama Muwaffaq selain anda di tempat ini?”
“Tidak. Hanya akulah satu-satunya orang yang bernama Muwaffaq, tukang sol sepatu” katanya.
“Saya hanya ingin mengucapkan selamat karena haji anda diterima oleh Allah tahun ini”
“Tetapi tahun ini saya tidak berangkat haji.”
“Apa? Benarkah?”
“Istriku hamil tua. Lagi pula, uang simpanan untuk ongkos haji-ku pun sudah habis. Aku harus menabung kembali.”
“Kau gunakan untuk apa uang itu?” tanya Abdullah.
Robbighfir warham wa annta khoirur raahiimina.. walaa haula walaa quwwata illa billahil aliyil adhimi. Aamin..


Tiba-tiba Abdullah bin Mubarak terbangun dari tidurnya. Hatinya menjerit tak tenang. Dari enam ratus ribu jamaah haji, hanya satu orang yang diterima hajinya.
Dan itu bukan dirinya, tetapi seseorang yang bernama Muwaffaq dari Damsyik. Maka mengalirlah rasa penasarannya. Ia pun segera meninggalkan Mekkah untuk pergi ke Damsyik, demi mencari seseorang yang dimaksudkan dalam mimpinya.
Setelah perjuangan melelahkan, akhirnya bertemulah ia dengan orang yang dimaksud. Mengalirlah perbincangan di antara keduanya.
“Benarkah anda Muwaffaq yang bekerja sebagai tukang sol sepatu?”
Muwaffaq mengangguk. “Aku memang berencana untuk menunaikan ibadah haji tahun ini. Tetapi tidak jadi. Aku menundanya sampai tahun depan, insya Allah“
“Mengapa?”
Muwaffaq pun mulai bercerita, “Tadi sudah kuceritakan, istriku hamil tua.
Suatu hari, dia mencium aroma bau masakan daging. Setelah kuselidiki, ternyata asap itu berasal dari tetanggaku. Aku heran, dia seorang janda miskin yang menghidupi beberapa anak yatim tetapi mampu memasak daging dengan aroma yang lezat. Sampai-sampai istriku menyuruhku memintanya ke sana”
Abdullah sepertinya tak sabar mendengar kelanjutan cerita Muwaffaq.
Muwaffaq pun melanjutkan, “Aku pun mendatangi rumah tetanggaku untuk meminta sepotong daging masakan itu. Tetapi janda miskin itu menolaknya. Dia bilang bahwa daging itu halal bagi keluarganya, tetapi tak halal bagi orang seperti diriku. Apa sebab? Karena daging yang ia masak sebenarnya adalah bangkai kuda yang baru saja mati. Anak-anaknya yang yatim menangis kelaparan. Ia pun memasak daging itu karena terpaksa. “
“Hatiku terasa hancur berkeping-keping mendengar cerita pilu janda miskin itu. Maka aku pun pulang dan menceritakan kisah ini pada istriku. Istriku pun menangis. Betapa berdosanya kami, karena tetangga kelaparan kami tak tahu. Akhirnya kuputuskan untuk menyerahkan semua uang simpananku untuk berhaji kepada janda miskin itu.” Muwaffaq pun mengakhiri ceritanya.
Abdullah bin Mubarak menghela nafas. Ia lalu berkata, “Ketika aku tidur di serambi masjidil Haram, aku bermimpi mendengar pembicaraan kedua malaikat bahwa dari enam ratus ribu jamaah haji hanya dirimulah yang hajinya diterima”
“Benarkah? Jika hal ini benar, berarti Allah telah mencatat amal sedekahku. Sungguh, aku berhaji hanya di depan pintu” kata Muwaffaq.
Sebuah kisah menakjubkan yang diceritakan Abu Fajar Al Qalami dalam sebuah buku berjudul ‘Koleksi Cerita Penggugah Kalbu”.
Semoga dapat kita ambil ibrohnya.


Baca juga :
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==